Petilasan ini terletak di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu yang merupakan daerah permukiman paling tinggi di Rahtawu. Untuk sampai di Petilasan ini pengunjung harus menempuh jarak 7 km dengan jalan kaki.
Searah dengan jalur tracking menuju Petilasan, pengunjung akan menemukan Petilasan Natas Angin, Sendang Keramat, dan Air terjun Kali Banteng.
Masyarakat meyakini Begawan Abiyasa pernah bertapa di Wukir Rahtawu tepatnya di Petilasan tersebut. Petilasan ini terkenal lantaran dalam pewayangan jawa, Begawan Abiyasa merupakan anak dari Begawan Palasara dengan Dewi Durgandini.
Namun, ia kemudian menggantikan ayah tirinya, Prabu Sentanu sebagai Raja Astina. Pada masa jabatannya dia dikenal sebagai raja yang mencintai rakyat. Dari sinilah masyarakat menghormati Begawan Abiyasa sebagai tokoh penting dalam silsilah tanah jawa.
Terletak di puncak 29, Petilasan ini menjadi salah satu destinasi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Menurut masyarakat, area puncak 29 ini konon merupakan tempat bertapanya para Dewa.
Nama Sang Hyang sendiri berarti Dewa atau Tuhan dalam pewayangan jawa. Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Wening sering dianggap Batara Guru atau pemimpin Kahayangan Suralaya.
Dulunya petilasan ini hanya berupa padang ilalang dan hanya dapat dirasakan secara energi metafisik yang melambangkan puncak perjalanan spiritual manusia adalah suwung atau sepi.
Murianews, Kudus – Selain memiliki kekayaan alam, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah juga kental dengan kebudayaan. Itu mengingat Desa Rahtawu dikenal sebagai salah satu desa cikal bakal tanah Jawa.
Saat bulan Sura, bulan pertama dalam penanggalan Jawa, salah satu desa di puncak Gunung Muria ini selalu ramai dikunjungi. Adanya petilasan di sana menjadi daya tarik bagi wisatawan spiritual maupun sejarah.
”Rahtawu saat Suronan ini pengunjungnya bisa lebih dari sepuluh ribu, hal ini karena Rahtawu memiliki banyak Petilasan, mengingat Rahtawu ini sebagai salah satu desa cikal bakal tanah jawa berdiri,” ujar Randi Gita Setyoko, Budayawan Rahtawu.
Petilasan merupakan tempat yang pernah dijadikan persinggahan tokoh penting dalam masyarakat, termasuk Petilasan Soekarno. Tercatat 68 Petilasan yang ditemukan di Desa Rahtawu. Namun, hanya beberapa di antaranya yang selalu dikunjungi.
Berikut daftar petilasan di Desa Rahtawu yang ramai dikunjungi:
- Petilasan Eyang Sakri
Petilasan ini menjadi yang paling populer dikalangan pengunjung wisata spiritual Rahtawu. Hal ini dikarenakan petilasan eyang sakri merupakan petilasan yang pertama kali ditemukan di Rahtawu.
Menurut masyarakat setempat, Begawan Eyang Sakri adalah tokoh yang babad alas di Rahtawu. Ia dipercaya sebagai kakek dari Pandawa dan Kurawa, sekaligus tokoh berpengaruh di pewayangan Jawa.
Masuk ke dalam Petilasan, pengunjung akan menemukan tempat memanjang di bawah cerobong besar yang dipergunakan khusus untuk membakar dupa dan kemenyan. Setiap tahunnya Petilasan Eyang Sakri di kunjungi puluhan ribu pengunjung.
Petilasan Eyang Abiyasa
- Petilasan Eyang Abiyasa
Petilasan ini terletak di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu yang merupakan daerah permukiman paling tinggi di Rahtawu. Untuk sampai di Petilasan ini pengunjung harus menempuh jarak 7 km dengan jalan kaki.
Searah dengan jalur tracking menuju Petilasan, pengunjung akan menemukan Petilasan Natas Angin, Sendang Keramat, dan Air terjun Kali Banteng.
Masyarakat meyakini Begawan Abiyasa pernah bertapa di Wukir Rahtawu tepatnya di Petilasan tersebut. Petilasan ini terkenal lantaran dalam pewayangan jawa, Begawan Abiyasa merupakan anak dari Begawan Palasara dengan Dewi Durgandini.
Namun, ia kemudian menggantikan ayah tirinya, Prabu Sentanu sebagai Raja Astina. Pada masa jabatannya dia dikenal sebagai raja yang mencintai rakyat. Dari sinilah masyarakat menghormati Begawan Abiyasa sebagai tokoh penting dalam silsilah tanah jawa.
- Petilasan Eyang Sang Hyang Wenang atau Sang Hyang Wening
Terletak di puncak 29, Petilasan ini menjadi salah satu destinasi yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Menurut masyarakat, area puncak 29 ini konon merupakan tempat bertapanya para Dewa.
Nama Sang Hyang sendiri berarti Dewa atau Tuhan dalam pewayangan jawa. Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Wening sering dianggap Batara Guru atau pemimpin Kahayangan Suralaya.
Dulunya petilasan ini hanya berupa padang ilalang dan hanya dapat dirasakan secara energi metafisik yang melambangkan puncak perjalanan spiritual manusia adalah suwung atau sepi.
Petilasan Gajah Mada
- Petilasan Gajah Mada
Sama dengan petilasan Abiyasa, Petilasan Gajah Mada terletak di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor membutuhkan waktu hampir satu jam dari pusat kota.
Menurut masyarakat setempat, Patih Gajah Mada atau Eyang Modo adalah sosok Patih yang setia dan gagah serta tangguh, namun setelah tak menjabat sebagai patih di Majapahit, Patih Gajah Mada mengasingkan diri di Gunung Muria untuk bersemedi.
Di sana ia mendapat ketenangan hingga tempat tersebut menjadi popular bagi pengunjung bahkan sampai keluar kota.
- Petilasan Narada
Diceritakan Narada meupakan pengembara yang dapat mengarungi 3 dunia, yaitu suarga loka (surga), muridiyo loka (bumi), pataloka (alam bawah). Ia melakukannya untuk kemakmuran rakyat.
Narada, merupakan sosok yang sangat sakti melebihi Sang Hyang Manikmoyo. Ia terkenal ramah, jujur, dan cerdas sehingga mendapat julukan Resi.
Masyarakat yang berkunjung didominasi dari Demak dan Solo. Mereka menghormati sosok Narada sebagai sosok yang penyayang dan dicintai masyarakat.
Penulis: Fitria Dwi Astuti
Editor: Zulkifli Fahmi