Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kemakmuran di Brunei Darussalam pada akhirnya juga membuat warganya tidak begitu menyukai sepeda motor. Sebagian besar wargannya lebih memilih membeli mobil.

Cerita soal ini disampaikan Yuli warga Bengkulu yang bekerja sebagai sopir bus di Brunei Darussalam. Yuli mengaku ’baru’ 17 tahun hidup di Tutong, Brunei, sejak masih muda.

Setelah berganti-ganti pekerjaan, sejak 4 tahun terakhir dirinya bekerja sebagai sopir bus. Di hari-hari biasa dirinya mengantar jemput anak sekolah.

Baca: Menikmati Panorama Sungai Tutong Nan Elok di Brunei Darussalam

Menurut Yuli, warga di Brunei setiap keluarga memiliki banyak mobil. Mereka memilih mobil ketimbang sepeda motor, karena cuaca panas di Brunei.

Hal inilah yang pada akhirnya jalan-jalan besar yang beraspal mulus di Brunei nyaris tidak ada sepeda motor yang lewat. Justru jalanan dikuasai mobil-mobil dari berbagai jenama.

”Ada sih sebenarnya yang punya sepeda motor. Tapi sangat jarang. Warga di sini lebih memilih mobil. Nggak kuat panas,” ujar Yuli menjelaskan.

Masih menurut Yuli, Brunei memiliki kekayaan alam melimpah berupa minyak dan gas alamnya. Dari sinilah warga mereka hidup makmur, karena semua disubsidi oleh kerajaan.

Masih berkait dengan soal mobil, di Brunei para pengguna jalan juga sangat patuh dan hati-hati. Bagi orang Indonesia, perilaku berkendara mereka bahkan mungkin bisa dibilang ‘aneh’.Bagi orang Indonesia, cara berkendara sebagian besar warga Brunei mungkin bisa membuat kesabaran habis. Untuk masuk jalur jalan raya misalnya, sopir di Brunei tidak berani asal nyelonong.Tidak heran, jika untuk masuk jalur saja butuh bermenit-menit, dan sopir-sopir di Brunei begitu sabarnya. Baru setelah jalur benar-benar kosong, mobil dijalankan. Bahkan bunyi klakson mobil juga ‘nyaris’ tidak terdengar di jalanan.Masyarakat di Brunei memang sangat patuh dengan aturan berkendara atau hukum yang diberlakukan. Bahkan tingkat kejahatan di Brunei juga disebut sangat rendah.”Orang-orang disini sangat patuh untuk urusan lalu lintas. Soalnya dendanya cukup mahal. Tidak pakai sabuk pengaman misalnya, di sini bisa kena denda 150 dolar,” ujar Yuli memberikan contoh.150 dolar Brunei jika dirupiahkan nilainya sekitar Rp 1,5 juta. Bagi warga Brunei mungkin jumlahnya biasa. Namun bagi sebagian kaum migran dari Indonesia, jumlah itu tetaplah sebuah nilai yang besar. Editor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Travel Terkini