Jumat, 23 Februari 2024

Brunei Makmur, Tapi Sepi…

Budi Santoso
Minggu, 18 Juni 2023 09:36:11
Salah satu sudut kota Pekan Tutong, di Distrik Tutong, Brunei Darussalam. Situasinya sepi. (Murianews/Budi Santoso)
Murianews, Tutong – Brunei Darussalam memang negeri makmur. Namun belum tentu bisa sepenuhnya membuat bahagia penghuninya. Brunei makmur, tapi sepi…begitulah yang terjadi. Dengan penduduk yang jumlahnya hanya sekitar 450-an ribu jiwa, membuat kota-kota di Brunei berbeda dibandingkan kota di Indonesia. Kota di Brunei, seperti Pekan Tutong, dihuni tidak lebih dari 100 ribu jiwa. Sehingga tidak berlebihan, tata kotanya berbeda dengan yang ada di Indonesia. Di Pekan Tutong, kantor-kantor dan pusat perekonomian berada pusat kota. Bangunan-bangunannya berjarak dengan rimbun hutan menyembul di antara bangunan. Namun sangat jelas, bahwa kota dibangun dengan konsep yang modern. Di wilayah pusat kota Pekan Tutong tidak banyak rumah warga. Sebagian besar adalah properti milik kerajaan. Pusat perekonomian juga hanya digunakan untuk berjualan. Bila malam tiba, ditinggal pemiliknya pulang ke rumah. Pusat kota hanya akan ada banyak orang jika siang hari, saat aktivitas kehidupan berlangsung. Namun setelah malam datang, Pekan Tutong berubah sepi. Bahkan dibandingkan dengan Kabupaten Kudus di Jawa Tengah, Indonesia, jauh kalah ramai. Pekan Tutong adalah salah satu ibu kota distrik di Brunei. Namun jangan membayangkan kota ini seluas dan seramai Kota Semarang, Jawa Tengah misalnya. Sama-sama sebagai ibu kota provinsi/distrik, Pekan Tutong hanya sebanding dengan kota kecamatan di Jawa, atau malah masih kalah ramai. ”Di sini orang hanya berpikir bekerja, pulang, lalu bekerja lagi, begitu yang terjadi,” jelas Junaidi, seorang migran asal Kediri, Indonesia, yang bekerja di Tutong. [caption id="attachment_389179" align="alignleft" width="1280"] Suasana sepi di Pekan Tutong, Brunei Darussalam. (Murianews/Budi Santoso)[/caption] Menurut Junaidi, di Pekan Tutong atau bahkan di Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei, situasinya memang seperti itu. Di Brunei tidak ada tempat hiburan malam, kafe malam, karaoke, atau sekadar tempat cangkruk untuk ngobrol hingga larut. Satu-satunya hiburan yang bisa dilakukan adalah menonton televisi atau bermain hand phone. Lainnya, sambil sembunyi-sembunyi adalah merokok!. Baca: Di Brunei Jarang Orang Pencet Klakson Mobil Merokok memang menjadi sesuatu yang ilegal di Brunei. Merokok bisa diancam hukuman denda.  Namun pada kenyataannya, sebenarnya banyak orang Brunei yang ternyata perokok. ”Orang-orang Brunei sebenarnya banyak juga yang merokok. Tidak laki tidak perempuan, banyak yang isap rokok. Tapi ya itu, mereka sembunyi-sembunyi,” jelas Junaidi. Sepinya Brunei bukan tidak memberi masalah bagi warganya. Mereka yang makmur akhirnya melampiaskan kesepiannya. Biasanya setiap akhir pekan mereka mengambil liburan ke luar negeri. Hal ini seperti yang dituturkan oleh Sutrisno, seorang pekerja migran asal Blitar, Indonesia. Sebagai sopir, dirinya bahkan mengaku menyaksikan sendiri bagaimana kebiasaan ini berlaku di masyarakat Brunei. ”Saya sering disewa untuk mengantar mereka ke Kemiri atau Kanibalu di Malaysia. Mereka berlibur di Malaysia. Bersenang-senang menikmati hidup dengan berwisata,” ujar Sutrisno. Baca:Perbandingan Harga BBM di Brunei dengan Indonesia Bak Bumi Langit Kemiri adalah salah satu kota kecil, atau tepatnya kampung, di wilayah negara bagian Sabah, Malaysia. Kota kecil yang lebih ramai dari Bandar Seri Begawan ini adalah tujuan favorit warga Brunei. Dijelaskan oleh Sutrisno, Kemiri adalah yang paling dekat dijangkau dari Brunei. Jaraknya tidak lebih dari 120 km saja. Tetapi di Kemiri, semuanya berbeda dengan yang ada di Brunei. ”Di Kemiri, warga Brunei akan menikmati hari-hari menyenangkan. Biasanya Jumat sore berangkat, lalu baru kembali pada Minggu petang. Seninnya kerja lagi mereka,” jelas Sutrisno. Begitulah, gambaran tentang kenyataan di Brunei. Memang sepi dan menjemukan. Namun bagi pekerja migran Indonesia, situasi tersebut sedikit banyak membawa berkah. Baca: Menengok Kondisi Jalanan Brunei Darussalam yang Nyaris Tak Ada Motor Setidaknya dengan begitu, hasil jerih payah bekerja tidak banyak yang dihabiskan untuk bersenang-senang. Mereka dapat mengumpulkan uang lebih banyak dalam perantauannya. ”Iya hikmah atau berkahnya ya itu, duit jadi bisa ngumpul. Lha mau dibikin apa? Di sini enggak ada karaoke, enggak ada kafe, enggak ada tempat nongkrong, jadi kurang deh untuk biaya seneng-seneng seperti itu,” ujar Sutrisno tertawa lebar. Begitulah Brunei, memang makmur dan kaya, tapi ternyata sepi!   Editor: Ali Muntoha

Baca Juga

Komentar

Travel Terkini